Redefining Leadership

Menggali peran perempuan dalam kewirausahaan teknologi bersama Shinta Witoyo Dhanuwardoyo

Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, yang juga dikenal dengan nama ‘Shinta Bubu’ bukan nama yang asing lagi di telinga para penggiat industri digital Indonesia. Ia adalah pengusaha Indonesia, pegiat digital, angel investor, pendiri agensi digital Bubu.com, dan masuk dalam daftar 99 Most Powerful Women versi Globe Asia dan Inspiring Women Honor Roll versi Forbes.

Mengawali kariernya di konsultan manajemen hingga menggagas Bubu.com, Shinta telah memimpin transformasi perusahaannya menjadi agensi digital papan atas sejak 27 tahun lalu, menandai perjalanan yang erat dengan kegigihan, bersikap inovatif, dan penuh kiat dalam menavigasi bisnisnya. Keberhasilannya juga dibuktikan melalui penyelenggaraan IDBYTE Art + Fashion 2023 yang mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta kehadiran pembicara internasional seperti Sarah Sukumaran, Ryo Ishikawa, Ralph Simon dan lainnya mencerminkan kapasitas Shinta untuk mengatasi tantangan dan menjadi inspirasi bagi banyak individu yang ingin maju dalam era digital.

Dalam wawancara bersama tim redaksi Collector’s Guide-WATCHES Indonesia, Shinta berbagi cerita tentang perjalanannya yang membanggakan dan penuh makna dalam dunia kewirausahaan. “Sebagai seorang entrepreneur, menjalani apa yang menjadi passion serta tujuan hidup kita itu sangatlah penting,” ungkapnya. Merawat bisnisnya selama 28 tahun terakhir yang penuh dengan tantangan dan pembelajaran ia anggap sangat berharga. Menurutnya, suka duka yang dialami merupakan bagian dari pertumbuhan yang esensial untuk menjadi pengusaha seperti dirinya saat ini. Setiap langkah yang telah diambil bukan hanya memajukan dirinya tetapi juga telah menjadi inspirasi dan motivasi untuk terus berkembang. Shinta membagikan salah satu pencapaian yang dia anggap paling berdampak: perannya sebagai mentor bagi generasi muda yang bercita-cita tinggi. “Memberikan dampak kepada orang lain itu yang saya banggakan,” lanjutnya. Ia tak hanya berbagi pengetahuan dan dukungan pada para pendiri startup dalam menghadapi segala tantangan – dari pengembangan produk hingga strategi pemasaran, tapi juga, dalam beberapa kasus, secara pribadi turut serta sebagai Angel Investor, menyuntikkan dana ke dalam usaha yang mereka jalankan. Dengan cermat, Shinta menjelaskan bahwa investasinya yang paling berharga adalah investasi pada potensi individu, khususnya para entrepreneur muda yang memiliki hunger, dan juga berkeingintahuan tinggi.

Saat ditanyakan tentang proyek terkininya, dengan penuh antusias Shinta menjawab, “Kami sedang mengembangkan StartupIndonesia.co di bawah naungan Bubu.com. Platform ini dibuat untuk menghubungkan para startup di Indonesia dengan ekosistem yang sangat mereka butuhkan. Ekosistem startup dan teknologi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Namun, banyak pendiri startup yang mengalami tantangan seperti ketimpangan informasi, akses ke mentor, jejaring, dan pendanaan yang masih sangat terpusat di kota Jakarta. StartupIndonesia.co dibangun untuk menjawab tantangan tersebut. Visi kita adalah agar setiap anak muda Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memulai, mengembangkan, dan meningkatkan startup mereka, terutama yang memberikan dampak socio economic untuk Indonesia yang lebih baik.  Basically we are democratizing the Startups ecosystem for everyone in Indonesia.

Kemudian, pembicaraan bermuara pada semangat Kartini yang melegenda dan bagaimana ia merefleksikan sosok tersebut—Shinta Bubu ternyata memiliki kekaguman yang mendalam. “Pengusaha perempuan di Indonesia kini menggambarkan semangat Kartini dengan menunjukkan keberanian dan ketekunan untuk mencapai kesetaraan dan memberi dampak positif pada masyarakat,” ungkapnya. Dia melihat mereka tidak hanya sebagai pengusaha tapi juga sebagai pionir yang menginspirasi, mengubah paradigma bisnis dan teknologi dengan cara yang serupa dengan Kartini di eranya. Menerapkan prinsip-prinsip Kartini dalam kepemimpinan dan praktik bisnisnya, Shinta tidak hanya mengadvokasi kesetaraan gender tetapi juga memberdayakan sesama perempuan untuk berkembang. “Saya mendorong perubahan berkelanjutan dan kerja sama yang inklusif,” ungkapnya. Bagi Shinta, setiap keputusan bisnis harus dipertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. Dengan komitmen yang kuat untuk menjadi agen perubahan positif, ia terus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dan tertarik pada industri teknologi dan digital. “Saya ingin melihat lebih banyak perempuan terlibat dalam industri teknologi dan digital,” tegasnya, menggarisbawahi keinginannya untuk melihat generasi mendatang mengejar mimpi mereka tanpa dibatasi oleh gender.

Di era dengan pertumbuhan Artificial Intelligence (AI) yang semakin membludak, bisnis agensi digital yang ia pimpin pun tak luput untuk dihadapkan dengan tantangan besar agar tetap relevan dan kompetitif. “Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan kami tetap berada di depan dengan keunggulan kompetitif kami, meski AI merambah luas di berbagai sektor, termasuk agensi. Menjaga relevansi dalam dunia yang cepat berubah dan semakin dipengaruhi oleh AI bukanlah tugas yang ringan. Adaptasi dengan AI bukan proses yang mudah; kami diuji untuk mengupayakan investasi besar pada sumber daya manusia yang berkualitas dan infrastruktur teknologi yang memadai,” jelasnya. Pengalaman ini mengajarkan kepada Shinta pentingnya pembaruan berkelanjutan dan adaptasi dengan teknologi terkini. Tantangan ini tak hanya diatasi, namun juga menjadi pelajaran berharga tentang betapa pentingnya tetap fokus pada penciptaan nilai tambah yang unik bagi para pelanggan, sebuah prinsip yang dia pegang teguh dalam setiap langkah bisnis yang diambil.

Mengakhiri perbincangan yang penuh inspirasi, Shinta Bubu berbagi tentang hal-hal yang lebih pribadi, yang memberi jendela kepada nilai-nilai dan perasaan yang dijunjung tingginya. Sebuah jam tangan pribadi miliknya memiliki makna mendalam bagi dirinya, “Salah satunya adalah jam tangan Hublot, bukan sekadar alat penunjuk waktu, tetapi desainnya yang inovatif, seringkali mencakup penggunaan bahan modern seperti keramik, karbon, dan titanium, memberikan jam tangan tersebut tampilan yang elegan dan futuristik,” akunya. Ada pula kalung emas dengan liontin bertuliskan ‘Allah’ juga memiliki tempat khusus di hatinya. Lebih dari sekedar perhiasan, kalung tersebut merupakan warisan dari almarhum Ayahandanya yang selalu dikenakannya. “Kalung ini mengingatkan saya pada nilai-nilai yang diajarkan Papa, serta menjadi simbol kecintaan dan kenangan yang tak tergantikan,” tuturnya.

 

Penulis: Billy Saputra

Fotografer: Rendy Kairupan

Busana: Jeffry Tan

Jam tangan dan perhiasan: Cartier, Plaza Indonesia

Share via
Copy link
Powered by Social Snap