Musical Time

Berbincang dengan Iskandar Widjaja tentang musik, desain jam hingga ketertarikannya terhadap jam tangan mekanis

Pemain biola klasik dan crossover, Iskandar Widjaja berhasil memukau para tamu undangan VIP dan kolektor jam tangan mewah yang hadir di Soehanna Hall, Energy Building, SCBD pada akhir Februari lalu, dengan penampilan musik klasiknya yang luar biasa, berkolaborasi dengan Jayakarta Chamber Orchestra. Pertunjukan konser musik klasik yang diselenggarakan oleh Grand Seiko bersama Independent (PT. Eurobutik Bangun Indonesia) ini menampilkan karya-karya musik klasik barok, komposisi Johann Sebastian Bach hingga Antonio Vivaldi, yang dimainkan dengan sempurna oleh sang solois biola profesional kaliber dunia, Iskandar dan kawan-kawan.

Musisi asal Indonesia kelahiran Jerman pada tanggal 6 Juni 1986 ini sudah memenangkan berbagai kompetisi internasional, dan darah seninya mengalir dari sang kakek Udin Widjaja, musisi Indonesia, pengarang, penggubah lagu, serta konduktor orkestra kesayangan Presiden RI pertama, Bung Karno yang sangat terkenal karena lagu-lagu gubahannya. Wajahnya yang tampan diwarisi dari orangtuanya, pasangan Ivan-Hadar dan Chin Widjaja yang memiliki darah Tionghoa Medan dari ibunya, dan Belanda-Arab-Maluku dari ayahnya. Saat remaja, ia ternyata pernah diterima sebagai siswa termuda di College of Music, Berlin, dan setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya ke University of the Arts di Berlin. Simak wawancara singkat kami dengan sang musisi multi-talenta yang memiliki tanggal kelahiran yang sama dengan Presiden Soekarno ini.

Ceritakan sedikit tentang kegiatan dan rencana terbaru Anda untuk tahun ini.

Saya telah memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu di Indonesia, sekitar 50 persen. Saya sudah di sini sejak Januari dan menyukainya sejauh ini. Kami telah merealisasikan banyak proyek termasuk tur bersama “Iskandar – The Show”, acara musik untuk Grand Seiko Indonesia, hingga acara musik amal untuk Bali Children Foundation. Tahun ini saya memiliki debut penting yang akan datang di Tokyo dan Turki, dan undangan ulang ke Aula Sinfonia Jakarta dan festival jazz Prambanan.

Siapa yang mengenalkan Anda pada dunia jam tangan? Dan apa yang paling menarik dari jam tangan?

Saya mewarisi Rolex pertama saya dari kakek saya Udin Widjaja dan juga Omega vintage, dengan desain yang sangat sederhana dan bersahaja. Saya terpesona oleh ketepatan dan kekokohan jarum jam. Itu mengingatkan saya untuk mengasah kerajinan artistik saya dengan ketelitian dan dedikasi yang sama.

 

Jika diberi kesempatan untuk mendesain jam tangan, warna, fitur, sistem mesin jam, atau detail apa yang Anda inginkan?

Saya menemukan jam tangan berkualitas tinggi yang bersahaja. Mungkin itu karena saya dibesarkan di Jerman. Orang-orang di sana tidak suka pamer, tetapi tetap menginginkan standar kualitas tertinggi. Mungkin saya akan memberikan sedikit sentuhan musik, tapi bukan yang murahan, mungkin lebih intelektual seperti kode tersembunyi dari Paduan Suara Bach.

Sebagai pemain biola terkenal dan pemenang berbagai kompetisi internasional, Anda pasti sangat sibuk. Bagaimana Anda mengatur waktu Anda?

Saya mencoba untuk sangat terorganisir tentang kegiatan saya. Hal-hal tertentu seperti olahraga, meditasi, latihan biola tidak dapat dinegosiasikan. Saya suka bekerja melawan tenggat waktu. Melakukan daftar membuat saya bahagia.

Mana yang Anda sukai, jam tangan pintar atau jam tangan mekanis?

Benar-benar mekanis, karena saya menyukai tradisi klasik yang terpelihara dengan baik seperti musik klasik.

 

Ada pesan untuk penggemar dan pecinta jam tangan di Indonesia?

Luangkan waktu Anda, nikmati saat ini, dan breathe!

 

@Foto-foto: EBIWATCH

Share via
Copy link
Powered by Social Snap
×