FIRST TIME FIRST!
Beberapa merek jam tangan yang baru pertama kali turut berpameran di ajang Watches and Wonders Geneva 2025
Ajang Watches & Wonders Geneva tahun ini dipenuhi dengan energi yang menyejukkan, berkat gelombang kehadiran peserta pameran baru yang membawa kreativitas dan keberanian ke panggung horologi paling bergengsi di dunia ini. Di antara 60 merek yang ikut pameran pada tahun ini, terdapat beberapa nama pendatang baru yang membuktikan bahwa inovasi terus tumbuh secara subur. Kehadiran mereka lebih dari sekedar simbolis. Mereka menyuntikkan energi menyegarkan yang bergema di seluruh aula Palexpo, menawarkan ide-ide berani, komplikasi yang tidak lazim, dan interpretasi modern tentang penunjuk waktu.
Suara mereka yang beragam—masing-masing dengan bahasa desain dan kreativitasnya sendiri—seakan memberikan kepada publik gambaran sekilas tentang seperti apa masa depan pembuatan jam tangan. Berikut beberapa jam tangan unik favorit Collector’s Guide – WATCHES Indonesia dari sejumlah merek pendatang baru dan juga independen yang berhasil mencuri perhatian tahun ini.
Christiaan van der Klaauw
Merek Christiaan van der Klaauw menjalani debutnya di ajang tahun ini dengan sebuah kreasi yang menggemparka,n yaitu Grand Planetarium Eccentric Meteorite. Singkatnya, Christiaan van der Klaauw telah membawa desain astronomi ke tingkat berikutnya dalam rangkaian produksi yang direncanakan hanya dibuat sebanyak tiga buah jam tangan. Bagaimana tidak, merek ini mengklaim telah memproduksi satu-satunya komplikasi mekanis Grand Planetary di dunia yang secara akurat menampilkan kedelapan planet—Merkurius hingga Neptunus—yang mengorbit Matahari secara real time atau nyata.
Secara visual, bagian dial jam yang terbuat dari aventurine glass menciptakan latar belakang langit malam yang menakjubkan, lengkap dengan rasi bintang zodiak dan orbit planet yang dilukis dengan tangan. Menariknya, di antara planet Mars dan Jupiter terdapat cincin meteorit yang berisi pecahan asli meteorit Mars yang berasal dari 50.000 tahun lalu, yang secara khusus diperoleh Pim Koeslag, CEO dari merek ini, dari NASA.
Semua ini tersimpan dalam case luar biasa ringan seberat 47 gram yang notabene terbuat dari meteorit yang dibuat dari batu luar angkasa seberat 1,09 kg. Material unik ini juga memiliki pola “Widmanstätten” yang terbentuk selama jutaan tahun akibat pendinginan lambat di luar angkasa, yang memberikan sentuhan akhir dengan sangat indah.
GENUS
Khusus untuk GENUS, debutnya seakan menggabungkan penguasaan teknis dengan ekspresi artistik. Model terbaru GNS2 Infinity Blue ditempatkan dalam case dari titanium Grade 5 yang kokoh, dipilih karena daya tahan dan juga sifatnya yang ringan.
Bagian dial jam memadukan warna biru dengan cahaya hangat keemasan, yang membangkitkan misteri akan keabadian dan perjalanan waktunya yang abadi—sebuah tema yang menjadi inti filosofi horologi GENUS, yang didirikan oleh duo Sébastien Billières dan Catherine Henry.
Proses penunjukkan waktunya pun dihadirkan dengan unik, melalui tampilan anak panah yang bergerak. Hadir dengan tampilan dial jam bergaya sektor, terdapat satu set anak panah berjalan di sepanjang pinggiran tepi yang menunjukkan penanda jam, sementara satu set terpisah anak panah bergerak di sektor atas dan bawah dalam jalur yang menyerupai angka delapan sebagai penanda menit.
Setiap kali melirik ke tampilan jam, akan terlihat koreografi waktu yang presisi dan juga artistik. Dengan mesin jam buatan in-house, transisi mulus setiap anak panah di lintasannya menciptakan ilusi tanpa bobot, menunjukkan perjalanan waktu terasa nyata dan juga halus pada waktu yang bersamaan. Setiap komponennya juga diselesaikan dengan menggunakan tangan, mengikuti tradisi Haute Horlogerie yang paling ketat, memastikan bahwa setiap jam tangan bukan hanya sekadar instrumen presisi namun juga sebuah karya seni.
HYT
HYT seakan mengikuti arus dengan menggunakan titanium yang menjadi tren akhir-akhir ini, dengan memperkenalkan model titanium di lini koleksi S1 mereka. Menariknya, lini S1 kali ini menampilkan tiga referensi baru yang bergabung dengan koleksi permanen mereka. Ketiganya, S1 Titanium DLC Blue, S1 Titanium DLC Green, dan S1 Beadblasted Titanium Red, masing-masing dibedakan oleh tampilan jam fluid retrograde khas merek ini dalam warna yang sesuai.
Sebagai contoh, untuk versi berwarna biru dan hijau memamerkan case titanium DLC berwarna hitam dengan cairan fluid sebagai penanda jam yang menjadi ciri khasnya, sementara varian merah memamerkan case titanium berwarna perak dengan cairan yang juga berwarna merah terang. Ketiganya juga menampilkan penanda Jam melalui teknologi hidromekanik khas merek tersebut yang memungkinkan cairan berwarna bergerak melalui tabung kapiler.
Di dalam setiap case titanium berukuran 45,3mm ini terdapat mesin jam yang menyediakan cadangan daya hingga 72 jam, serta dilengkapi dengan pilihan tali jam tangan yang terbuat dari karet atau model velcro melalui sistem ganti dengan cepat. Pada akhirnya, melalui kombinasi ini HYT sekali lagi menunjukkan keunggulan mereka kepada khalayak ramai dengan interpretasi modern mereka akan penunjuk waktu.
Kross Studio
Untuk penampilan perdananya di Watches & Wonders Geneva, Kross Studio melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dengan konfigurasi yang selama ini kita kenal. Model jam tangan MT1 Chronomètre Tourbillon 7 Jours yang diluncurkan menghadirkan mesin jam kaliber KS 7010 MT terbaru yang dibuat secara in-house, dengan komplikasi flying tourbillon yang kini berada di posisi pukul 6, bukan di posisi tengah seperti biasanya. Jam tangan berdiameter 44mm ini membingkai arsitektur bertipe skeletonized yang, untuk pertama kalinya, menyertakan nama Marco Tedeschi sebagai pendiri pada bagian dial jam.
Namun, di balik tampilan dial jam yang terkesan agak rumit, jarum jam berbahan rose gold dengan lapisan satin membantu menonjolkan keterbacaannya. Bagian tombol jam inovatif yang terintegrasi ke bagian belakang case juga hadir guna meningkatkan ergonomi. Jam tangan ini juga dilengkapi tali jam yang dapat diganti dengan sistem tombol tekan yang tersembunyi untuk penyesuaian yang mudah.
Sebagai sentuhan akhir, mesin jam ini memiliki sertifikasi kronometer COSC, dan juga sesuai dengan namanya, menyediakan cadangan daya selama 7 hari. Mesin yang spesial ini terlihat melalui bagian belakang yang menampilkan motif dekoratif “raindrop” atau menyerupai tetesan hujan, sebuah pola yang meniru riak-riak di air yang tenang.
MeisterSinger
Tahun ini, khusus untuk debut mereka di ajang Watches & Wonders Geneva, MeisterSinger bermitra dengan perancang jam tangan Prancis yang terkenal, Alain Silberstein, untuk menciptakan dua jam tangan edisi terbatas yang memukau: MeisterSinger x Alain Silberstein Kaenos Editions.
Sebagai merek jam tangan yang dikenal dengan pendekatan menggunakan satu jarum jam yang khas selama hampir 25 tahun, kolaborasi kali ini dengan Silberstein menghadirkan warna-warna berani dan keceriaan geometris khasnya.
Hasilnya adalah dua model jam tangan baru yang hadir dalam versi MeisterSinger x Alain Silberstein Edition Kaenos Grand Date dan MeisterSinger x Alain Silberstein Edition Kaenos Open Date. Keduanya dikemas dalam case Kaenos berdiameter 40mm x × 11.2mm baru dari MeisterSinger dengan gelang jam baja yang terintegrasi, yang masing-masing diciptakan secara terbatas sebanyak 225 buah.
Secara visual, keduanya dilengkapi dengan dial jam berwarna hitam dengan jarum jam merah khas Silberstein yang dipadukan jarum detik dari emas. Pada versi Open Date, cincin untuk penanda tanggal terekspos sepenuhnya, yang memberikan struktur dan kedalaman pada bagian dial, dengan tanggal pada saat ini dapat dibaca di bawah posisi jam 12. Sementara, lingkaran dalam berwarna emas yang tersembunyi pada versi Grand Date dengan tanggal berbentuk persegi panjang pada pukul 6 adalah perbedaan detail yang menonjol di kedua versinya.



