A STAGE FOR VIRTUOSOS

Dari panggung Bimasena hingga lintas disiplin seni, Ananda Sukarlan merayakan musik sebagai ruang inklusif yang mempersatukan generasi baru, sastra, dan suara

Pada suatu malam di pertengahan bulan Juli 2025, The Bimasena yang bernaung di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta, memancarkan suasana hangat yang menyambut para tamu dengan elegan yang menghadiri konser musik klasik. Konser ini menjadi panggung bagi Ananda Sukarlan untuk memperkenalkan para pemenang Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025, ajang yang telah lama dikenal sebagai salah satu kompetisi musik klasik paling bergengsi di Indonesia.

Andreas pada biola, Wirawan Cuanda sebagai bariton, dan Michael Anthony Kwok di piano, tampil membawakan karya-karya pilihan yang memikat hadirin. Sejumlah tokoh penting dari kalangan diplomatik dan seni turut hadir, memberikan warna tersendiri pada malam yang penuh apresiasi ini. Konser ini terasa seperti sebuah perayaan bagi talenta muda dan dedikasi tanpa henti terhadap dunia musik klasik.

Di antara para pemenang malam itu, sosok Michael Anthony Kwok mencuri perhatian dengan caranya yang begitu menyentuh hati. Pianis muda ini lahir dengan kondisi tunanetra dan autisme, namun ia berhasil memukau audiens lewat permainan dua nomor Rapsodia Nusantara (No. 31 dan No. 19) ciptaan Ananda Sukarlan yang menuntut teknik pianistik tingkat tinggi.

Usai penampilannya, Ananda Sukarlan tak ragu menyebut permainan Michael sebagai “jenius”, sebuah pengakuan yang menegaskan kualitas musikalnya. Kemenangan ini juga mengantarkannya meraih beasiswa penuh ke Perancis tahun depan dari Institut Francais d’Indonesie. Michael membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermusik, berkarya, dan menginspirasi.

Kolaborasi penuh makna pun juga tersaji lewat penampilan bariton Wirawan Cuanda bersama Ananda Sukarlan dan oboist asal Belanda, Eric van Reenen. Mereka mempersembahkan tiga lagu puitik yaitu, Tangerang (puisi Sabar Anantaguna), Dalam Sel (Putu Oka Sukanta) dan Aku dan Kutu Busuk (puisi Sutikno W.S.). Wirawan menghadirkan karakter suara yang kuat, bergerak dari lirih hingga dramatis, dengan iringan oboe yang memberi warna emosi berbeda pada tiap baitnya. Sebuah momen berkesan juga terjalin saat Wirawan dan Ananda membawakan karya Kurnia Effendi yang memadukan bahasa Indonesia dan Jawa, memperkuat nuansa puitis dalam musik. Penampilan ini menegaskan bagaimana puisi, sejarah, dan musik klasik dapat bersatu dalam harmoni yang menggugah.

Malam itu, Ananda Sukarlan dan Eric van Reenen turut mempersembahkan dua karya untuk oboe dan piano yang memadukan sastra, seni visual, dan musik. Dawn, yang terinspirasi dari puisi Emily Dickinson, dan Echo’s Whisper, yang mengambil ilham dari lukisan John William Waterhouse, menghadirkan keindahan dialog antara suara oboe yang melankolis dan grand piano Yamaha yang membingkai tekstur bunyi penuh warna.

Kedua karya ini sekaligus menandai langkah Ananda untuk mendorong minat lebih luas terhadap instrumen tiup di kalangan pemusik Indonesia. Ia juga membuka potensi kolaborasi lintas disiplin, mempertemukan musik klasik dengan dunia seni rupa. Dalam momen tersebut, Ananda tampil memukau dengan jam tangan CHOPARD L.U.C XPS dengan pelat jam abu-abu, dan case berwarna emas merah muda yang tampak ringan dan selaras menemani tiap gerak jarinya di atas tuts piano.

Sebelumnya, Ananda juga terlihat mengenakan Chopard Alpine Eagle 41mm dengan pelat jam biru, dibalut case Lucent Steel; Alpine Eagle 41mm pelat jam merah salmon, dengan case Lucent Steel; dan L.U.C XPS pelat jam hijau, dengan case Steel yang terlihat serasi dengan batik yang dikenakannya saat sesi pemotretan untuk majalah Collector’s Guide-WATCHES Indonesia.

Malam itu juga menandai pelantikan Ananda Sukarlan sebagai anggota Bimasena Circle, Board of Social (BOS) untuk bidang Art, Culture & Inclusivity. Ia bergabung bersama nama-nama lain dari lintas disiplin seperti Amalia Wirjono (Art & Design), Widhyawan Prawiraatmadja (Mines & Energy), Tyo Guritno (Tech & Education), dan Wilsen Willim (Fashion).

Peran Ananda di BOS mempertegas dedikasinya dalam memperjuangkan keterhubungan antara seni, inklusivitas, dan pendidikan musik klasik.

Forum ini membuka lebih banyak peluang kolaborasi lintas bidang, mempertemukan ide dari berbagai sektor untuk membangun ekosistem seni yang lebih hidup. Keterlibatan ini semakin mengukuhkan posisi Ananda sebagai salah satu figur penting yang membentuk arah perkembangan budaya di Indonesia hari ini.

Melalui karya-karyanya, Ananda Sukarlan terus membangun jembatan antara generasi muda dan musik klasik yang kerap dianggap sulit didekati.

Lewat Rapsodia Nusantara yang telah melahirkan banyak pianis berbakat hingga lebih dari 600 tembang puitik yang memadukan sastra dan musik, ia membuka akses baru bagi penikmat seni. Kini, karyanya untuk instrumen tiup juga memberi harapan bagi tumbuhnya minat baru di Indonesia, sebuah bidang yang selama ini kurang diminati.

Potensi kolaborasi lintas disiplin antara musik dan seni visual pun terus berkembang, terinspirasi dari lukisan (seperti Frida Kahlo dan John William Waterhouse) dan puisi yang menjadi sumber kekayaan gagasan. Harapannya, semangat ini akan terus melahirkan generasi baru yang melihat musik sebagai ruang luas untuk berekspresi, melampaui batas konvensional.

Diantara para tamu yang hadir malam itu terlihat para Duta Besar dan diplomat dari negara-negara sahabat dan para penikmat seni musik klasik yang disambut hangat oleh manajemen The Bimasena Club, Gevin Indra Abubakar (General Manager), Ananda Idris (Executive Team Member, Bimasena Energy Society), Shahnaz Anindya (Director of Membership, Bimasena) dan Fitria Passau (Program Director).

Penulis: Billy Saputra
Fotografer: Rendy Kairupan
Jam tangan: CHOPARD Alpine Eagle dan L.U.C XPS, The Time Place
Baju batik Ananda: Rosdhani by Franceline Sri Rosdhanimurti 

Share via
Copy link
Powered by Social Snap
×