TIME TO BEAT

Apa pertimbangan utama Anda saat ingin memiliki sebuah karya seni? Bentuknya yang unik, bahan pembuatannya yang tidak biasa, desainernya yang terkenal, atau harganya? Dari ajang Watches and Wonders Geneva tahun ini kami hadirkan beberapa penunjuk waktu yang layak disebut karya seni pilihan Collector’s Guide-WATCHES Indonesia, termasuk jam meja yang diproduksi sangat terbatas.

ArtyA

Merek jam asal Swiss ini memperkenalkan karya spektakuler yang mengubah persepsi kita tentang semua hal yang menentang gravitasi dalam dunia kronometri. ArtyA Complexity memiliki mekanisme tourbillon ganda tipe inclined atau miring yang belum pernah ada sebelumnya di dalam case transparan. Jika tourbillon pada umumnya berputar pada satu bidang silinder, Complexity menggunakan varian langka yang dikenal sebagai “Cônillon.”

Dalam konfigurasi ini, sumbu roda keseimbangan atau balance wheel mengikuti lintasan berbentuk kerucut, yang secara bersamaan mengoreksi penyimpangan kecepatan yang disebabkan oleh gravitasi pada beberapa posisi vertikal. ArtyA memecahkan tradisi sebelumnya dengan menempatkan dua regulator yang saling berhadapan ini pada posisi jam 12 dan jam 6 untuk mencapai optimalisasi 360 derajat dalam hal akurasi kronometrik.

Keunggulan teknis ini bergantung pada arsitektur yang sangat rumit. Pertama, “Non-Parallel Architecture”, ketika tidak satu pun sumbu pada bagian balance, cage, atau pallet fork yang sejajar, sehingga memastikan presisi yang maksimal di semua posisi pergelangan tangan.

Kedua, “The Keystone Differential” atau mekanisme yang menyeimbangkan torsi dari tabung mainspring barrel dengan sempurna, menjamin setiap bagian dari tourbillon cage yang berputar setiap 30 detik terus-menerus menerima energi yang sama. Konfigurasi teknis ketiga, “The Purtec Lineage,” dikembangkan bersama perusahaan spesialis komplikasi Purtec Sàrl.

Mesin jam Calibre Complexity-01 yang terdiri dari 287 komponen juga mengadopsi keahlian multi-axis dari pembuat jam legendaris Éric Coudray. Hadir dalam case berukuran 42×48 mm yang radikal namun tetap berdesain organik. Bagian case terbuat dari safir transparan sintetis atau bahan batuan “Pigeon’s Blood” rubi warna merah tua. Terdapat pilihan dial “Griffe” yang diukir 3D dan tampak eksplosif, atau dial “Matte” yang lembut seperti bahan beludru dan dipoles dengan teknik shot-blasted.

Hanya diproduksi sebanyak 9 buah di seluruh dunia dan masing-masing diberi nomor urut, ArtyA memposisikan Complexity sebagai bentuk pernyataan tertinggi dalam dunia pembuatan jam tangan independen. Harga: CHF 190,000 (versi safir), dan CHF 220,000 (versi batuan rubi), atau sekitar IDR 4,2 miliar – IDR 4,9 miliar). www.artya.com

Chopard

Dalam industri jam tangan, terdapat benda-benda yang menunjukkan waktu, dan ada pula benda-benda yang menceritakan sebuah kisah. Tahun ini, Chopard menciptakan salah satu karya spesial khusus untuk masuk ke dalam kategori yang terakhir. Untuk merayakan ulang tahun ke-30 manufaktur mereka di Fleurier, Chopard mempersembahkan Beehive Table Clock edisi terbatas sebanyak 10 buah, yang dikembangkan bekerja sama dengan L’Épée 1839.

Dirancang sebagai jam meja mekanis dengan bunyi lonceng sekaligus sebuah “Objet d’Art,” kreasi ini memadukan inovasi horologi, keahlian Haute Joaillerie, dan warisan simbolis yang kuat. Dengan tinggi 25,8cm, ketujuh lapis kaca melengkungnya mengingatkan pada sarang lebah tradisional Eropa abad pertengahan yang anyaman, sementara di balik dinding transparannya berdetak mekanisme lonceng dengan tingkat kerumitan yang luar biasa.

Bagi Chopard, sarang lebah atau “Beehive” bukanlah sekadar hiasan tanpa arti. Louis-Ulysse Chopard mengadopsinya sebagai lambang pada tahun 1860, sebagai metafora bagi ketepatan dan keahlian kolektif. Ketika Karl-Friedrich Scheufele mendirikan manufaktur Fleurier pada tahun 1996, ia menghidupkan kembali motif tersebut, menyadari keselarasan motif itu dengan nilai-nilai merek ini yang berupa kerja keras dan dedikasi.

Kini, simbolisme tersebut diwujudkan secara spektakuler. Tiga ekor lebah dari bahan emas kuning 18K melayang di permukaan jam, masing-masing dibuat dengan tangan di studio “Haute Joaillerie” Chopard menggunakan teknik kuno yang dinamakan “lost wax.” Tubuh mereka berkilauan dengan deretan safir kuning dan berlian hitam yang disusun secara bergantian, sementara mata mereka terbuat dari spinel hitam dan sayapnya dari bebatuan kristal yang mampu menangkap cahaya dengan kilauan halus—yang juga mengingatkan kita pada “Palme d’Or Cannes.”

Dua dari makhluk bertatahkan permata ini memiliki fungsi praktis: bagian sungut mereka menandai jam dan menit pada cincin kaca yang berputar, sedangkan yang ketiga menunjukkan mode pemilihan dari bunyi loncengnya. Di balik karya seni berbasis visual ini terdapat teknik akustik yang canggih.

Lapisan kaca paling atas berfungsi sebagai lonceng, yang dipukul oleh palu emas untuk menghasilkan bunyi lonceng jernih khas Chopard. Untuk menyempurnakan suara ini, mereka berkolaborasi dengan institut HEPIA di Jenewa, guna menganalisis bagaimana variasi geometri kaca memengaruhi respons frekuensi.

Hasilnya adalah mekanisme lonceng yang dapat secara otomatis membunyikan jam dan setengah jam, atau diaktifkan sesuai permintaan, yang semuanya didukung oleh mesin jam dengan double-barrel yang menawarkan daya tahan hingga delapan hari. Dikembangkan selama dua tahun melalui kemitraan dengan L’Épée 1839, Beehive Table Clock mengingatkan kita bahwa presisi, layaknya pekerja paling rajin di alam yaitu lebah, membutuhkan harmoni dan upaya kolektif. Harga: CHF 330,000 (sekitar IDR 7,4 miliar). www.chopard.com

Grand Seiko

Hanya sedikit pembuat jam tangan yang mampu menangkap keindahan alam layaknya Grand Seiko. Kreasi terbaru mereka mengangkat filosofi keindahan alam ini menjadi seni horologi tingkat tinggi.

Dibuat oleh para pengrajin terpilih di Micro Artist Studio di Shiojiri, Masterpiece Collection SBGZ011 ini adalah jam tangan Spring Drive yang terinspirasi oleh Air Terjun Tateshina yang megah dan memukau, menggambarkan aliran waktu yang abadi melalui ukiran tangan multidirectional yang sangat indah. Bagian dial bukan hanya menjadi penunjuk waktu semata, ia menjadi kanvas yang seakan hidup.

Garis-garis ukiran tangan mengalir dalam berbagai arah, menyatu sempurna menangkap esensi mata air yang muncul dari perut bumi. Setiap jam, menit, dan penanda yang diaplikasikan dengan tangan dibuat dari emas putih 18K, memancarkan kilau tajamnya yang khas. Jarum menit dan detik ditekuk lembut ke arah dial untuk keterbacaan optimal, sementara huruf dan penanda menit diukir langsung ke permukaan—memberi dimensi dan kedalaman yang hanya bisa dicapai melalui keahlian tangan manusia. Jarum detik Spring Drive berwarna abu-abu meluncur di atas permukaan bertekstur, mengingatkan kita pada aliran waktu yang tak pernah berhenti.

Dibalut dalam case Platinum 950 setebal 9,6mm yang mengadopsi siluet ramping dari model 44GS klasik tahun 1967 dengan permukaan datar dan sudut tajam yang ikonik, dengan perbedaan pad ribuan garis ukiran tangan yang mengalir melintasi permukaan jamnya. Polesan Zaratsu yang khas berpadu dengan permukaan halus, menghasilkan dialog antara cahaya dan bayangan yang seakan tidak berhenti.

Di bagian dalamnya berdetak mesin jam Caliber 9R02, mekanisme Spring Drive tertipis Grand Seiko dengan ketebalan hanya 4,0mm, dengan cadangan daya selama 84 jam. Hanya 50 unit yang tersedia secara eksklusif di butik Grand Seiko, model ini adalah sebuah perpaduan tanpa kompromi antara warisan budaya Jepang dan keunggulan mereka secara teknis. Bagi para kolektor sejati, jam tangan ini menjadi bukti nyata akan keagungan alam yang indah yang juga dapat dikenakan. Harga: USD 84,000 (sekitar IDR 1,5 miliar). www.grand-seiko.com

Hermès

Tahun ini, Hermès sekali lagi membuktikan keahliannya dalam mengubah kegiatan sederhana seperti membaca waktu menjadi sebuah pertunjukan yang menawan melalui koleksi Hermès Arceau Samarcande. Jam tangan ini merupakan sebuah permainan teatrikal yang memadukan warisan berkuda dari merek ini dengan kecanggihan mesin mereka yang tak kalah menakjubkan.

Arceau Samarcande hadir dengan case berdiameter 38mm yang elegan lam dua versi, dari emas putih atau rose gold. Hermès menciptakan dial dengan desain terbuka yang memukau dari kristal Saint-Louis, yang telah dibentuk menjadi bentuk kepala kuda.

Potongan dengan mata berbintang ini berfungsi sebagai jendela menuju jiwa jam tangan tersebut, menelusuri transisi yang mulus antara estetika dari bagian eksterior dan juga interior, layaknya sebuah permainan “petak umpet” visual yang memberikan ruang luas bagi imajinasi si pengguna jam tangan atau mereka yang melihat model ini.

Jam ini juga mengusung keunggulan teknis yang terlihat pada bagian yang dipotong pada dial, yaitu mesin jam H1927 skeletonised terbaru. Selain itu, jam tangan ini memiliki bunyi lonceng karena dilengkapi dengan fitur minute repeater, yang memungkinkan pemakainya mengagumi suara ketika gong berbunyi untuk menandakan suatu waktu.

Hermès Arceau Samarcande bukanlah sekadar alat untuk menunjukkan jam dan menit semata, ia merupakan ekspresi mendalam dari seni pembuatan jam dengan tetap menjadi contoh sempurna dalam hal proporsi dan keanggunan.

Dengan mengangkat seni keterbukaan dan menjadikannya bahasa tersendiri, Hermès telah menghadirkan sebuah pengingat yang cemerlang bahwa misteri waktu yang paling memikat sering kali ditemukan ketika kita memandangnya melalui kacamata tradisi historis yang diwariskan, dan mengundang kita untuk menjelajahi lebih dalam struktur dari waktu itu sendiri. Harga: USD 301,300 – USD 306,800 (sekitar IDR 5.4 miliar – IDR 5,5 miliar). www.hermes.com

Share via
Copy link
Powered by Social Snap
×