THE FOREST KNEW THEM FIRST

Rolex Awards 2026 memilih lima perempuan yang bekerja di garis terdepan konservasi, salah satunya perempuan Aceh yang menjaga ekosistem paling unik di bumi

Leuser adalah salah satu di antara semua ekosistem hutan yang tersisa di Asia Tenggara, yang menyimpan sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain mana pun. Gajah, harimau, orangutan, dan badak hidup berdampingan dalam satu hamparan yang sama, bukan dalam zona yang dipisahkan, tapi dalam ekosistem yang masih berfungsi penuh. Keberadaan keempatnya secara bersamaan bukan kebetulan ekologis, melainkan hasil dari hutan yang masih cukup luas dan utuh untuk menopang semua aspek kehidupannya sekaligus.

Membentang sekitar 2,6 juta hektare di Aceh dan Sumatera Utara, Leuser memenuhi syarat-syarat itu, tapi dengan batas yang terus menyempit. Deforestasi menggerusnya perlahan, dalam skala yang tidak selalu tampak dramatis dari luar tapi terasa langsung oleh mereka yang tinggal di dalamnya. Di sinilah Farwiza Farhan memilih berjuang, dan perjuangan itu kini mendapat pengakuan dari panggung yang jauh lebih luas.

Februari 2026, Rolex mengumumkan lima laureates untuk program penghargaannya yang memasuki usia ke-50. Farwiza adalah salah satunya, satu-satunya dari Asia Tenggara dalam daftar yang juga mencakup empat perempuan lain dari Nigeria, Peru, China, dan Amerika Serikat.

Rachel Ikemeh, konservasionis yang menyelamatkan monyet colobus merah Niger Delta dari ambang kepunahan.

Rosa Vásquez Espinoza, ahli biologi kimia yang membuktikan hubungan antara deforestasi Amazon dan penurunan populasi lebah tanpa sengat.

Binbin Li, ilmuwan lingkungan yang melindungi habitat panda liar di China.

Dan Pardis Sabeti, ahli genetika medis di garis terdepan penanggulangan wabah virus di Afrika Barat. Lima nama, lima medan berbeda, satu arah yang sama. Yang menyatukan kelima sosok itu bukan bidang keilmuan atau geografi, melainkan cara mereka memilih bekerja.

Ikemeh membangun hub pelatihan dan program edukasi keliling untuk mereplikasi keberhasilannya di komunitas-komunitas Niger Delta. Espinoza memperluas koridor habitat lebah tanpa sengat yang dikelola masyarakat adat di Amazon Peru. Li merancang pendekatan peternakan berkelanjutan yang menguntungkan ekonomi lokal sekaligus melindungi ruang hidup panda. Sabeti mengembangkan alat diagnostik portabel yang bisa mendeteksi wabah virus sebelum menyebar ke populasi besar. Dan Farwiza terus bekerja dari dalam memperluas program yang menempatkan perempuan dan komunitas akar rumput sebagai pemantau dan penjaga ekosistem mereka sendiri.

Rolex Awards bukan pendatang baru di dunia filantropi lingkungan. Sejak didirikan pada 1976 untuk menandai ulang tahun ke-50 jam tangan tahan air pertama Rolex, program ini telah mendukung 165 individu dari lebih dari 67 negara. Rekam jejaknya terukur: lebih dari 50 juta pohon ditanam, 137 spesies terancam punah dilindungi, dan 32 ekosistem besar dipertahankan. Tapi yang membedakan program ini dari penghargaan lingkungan lainnya adalah sifat dukungannya. Rolex tidak berhenti pada seremoni dan pemberian trofi. Ia mendampingi para laureates jauh setelah penghargaan diterima, memberikan akses ke jaringan ahli global dan dukungan jangka panjang yang memungkinkan kerja di lapangan terus berkembang.

Dalam lanskap konservasi global yang kerap didominasi oleh pendekatan atas ke bawah, apa yang dilakukan kelima laureates ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak datang membawa solusi dari luar lalu pergi ketika proyek selesai. Mereka membangun kapasitas dari dalam, merangkul komunitas lokal menjadi pelaku utama, memantik tindakan kolektif untuk perubahan. Pendekatan itu relevan di mana pun hutan dan ekosistem terancam, tapi terasa sangat dekat di Indonesia, di mana tekanan pembangunan terhadap kawasan hutan terus berlangsung dan suara komunitas lokal masih terlalu sering kalah langkah dari kepentingan yang lebih besar. Apa yang terjadi di Leuser bukan pengecualian, justru sebuah cerminan.

Sosok Farwiza Farhan adalah contoh dari apa yang terjadi ketika kecintaan itu diterjemahkan menjadi dedikasi kerja yang konsisten, bertahun-tahun, dari tingkat yang paling mendasar. Penghargaan Rolex bukan titik puncak dari perjalanan itu, melainkan konfirmasi bahwa komitmen yang ia pilih jauh sebelum ada yang memperhatikan adalah tanggung jawab yang sesungguhnya. Bagi pembaca di Indonesia, kisahnya bukan hanya tentang hutan di Sumatera. Ia adalah pengingat bahwa di tengah tekanan yang terasa terlalu besar untuk dilawan, masih ada ruang untuk cara kerja yang akarnya menancap dalam, yang percaya pada komunitas, dan yang tahu persis apa yang akan hilang jika tidak ada yang memilih untuk hadir.

Penulis: Billy Saputra

Share via
Copy link
Powered by Social Snap
×