THE JOURNEY BEYOND TRADITION
Perbincangan bersama Matthieu Hegi dan Enrico Barbasini, hingga keunggulan dua rilis terbaru dari jenama legendaris Daniel Roth dan Gérald Genta
Geneva Watch Days tahun ini membawa kesan tersendiri, karena selain kami dapat melihat langsung berbagai rilis jam tangan mewah terbaru yang mengagumkan, Collector’s Guide-WATCHES Indonesia mendapat kesempatan untuk dapat berbincang langsung dengan dua figur berpengaruh di balik kebangkitan Gérald Genta dan Daniel Roth, dan perombakan pada koleksi Louis Vuitton Tambour.
Mereka adalah Enrico Barbasini, pakar pembuat jam tangan yang juga salah satu pendiri manufaktur La Fabrique du Temps Louis Vuitton, dan Matthieu Hegi, Direktur Artistik dan Kreatif di La Fabrique du Temps Louis Vuitton, sekaligus kepala kreatif untuk merek jam tangan legendaris yang dihidupkan kembali, Gérald Genta dan Daniel Roth, di bawah naungan LVMH.
Gérald Genta Geneva Minute Repeater Golden Obsidian
Dalam perbincangan awal bersama Matthieu Hegi, kami membahas koleksi Gérald Genta Geneva Minute Repeater Golden Obsidian. Setelah sukses dengan versi dial jam berbahan onyx hitam, mereka menemukan bahan baru untuk berkarya, yaitu obsidian. “Saat itu saya sedang berada di Jerman, mengunjungi seorang peritel yang memiliki banyak sekali batu. Di salah satu sudut, terdapat sebuah batu yang tampak sangat ganjil, berwarna keemasan, dan menurut penilaian saya, batu itu terlihat sintetis; saya pikir itu adalah benda buatan manusia.
Saya pun bertanya batu apa itu, dan diberitahukan bahwa itu adalah golden oxidant (oksidan emas) dari Meksiko yang 100% alami. Jadi, itulah yang kini ada di hadapan Anda,” ungkapnya. “Ini adalah bahan yang langka untuk dijadikan pelat jam, karena dengan bahan obsidian, tidak ada dua pelat yang persis sama. Perpaduan langka antara rona keemasan dan cokelat ini menghadirkan kesan orisinalitas yang nyata.” Dari sisi tantangan teknis, Hegi menjelaskan untuk mempertahankan fungsi jam untuk akustik yang jernih dibutuhkan arsitektur movement yang presisi, penempatan komponen yang cermat, serta perhitungan karakteristik material, demi menjaga resonansi, sehingga dentingan jam tetap terdengar kristalin dan jelas meski ruangan dipenuhi pengunjung. “Saya merancang jam tangan ini berdasarkan suaranya.
Jika Anda membayangkan minute repeater, biasanya kita menghitung berapa banyak emas yang harus dikurangi untuk menghasilkan suara yang jernih. Namun kami justru menambahkan sedikit mungkin emas pada saat membuat konstruksi jam. Beberapa komponen dari mesin jam ini hanya memiliki 0 – 0,6mm emas untuk memastikan suara dentingan yang jernih.” Casing jam rose gold dengan diameter 40mm dan tebal 9.6mm ini menampung mesin Caliber GG-002 yang dikembangkan sepenuhnya oleh Enrico Barbasini dan Michel Navas, sebuah mesin jam yang berfungsi untuk memenuhi tiga prioritas keunggulan mekanis, keindahan visual, dan suara emosional.
Daniel Roth Extra Plat Rose Gold Gilt
Hegi juga menunjukkan jam Daniel Roth terbaru dengan casing elips ganda yang merupakan ciri khas Maison ini, dan dial hitam berlapis emas (black gilt) yang dibuat melalui keahlian tangan luar biasa. Dibuat dari rose gold 5N, casing berukuran 38,6 × 35,5 mm dengan ketebalan hanya 7,7 mm, konstruksi Extra Plat yang sangat tipis ini menghasilkan profil yang ramping dan nyaman saat dikenakan. Daya tarik utamanya terletak pada dial hitam berlapis emas, yang menghidupkan kembali teknik dekoratif tradisional dari tahun 1930-an.
Berbasiskan lempengan emas solid, dial ini melalui proses penyelesaian akhir dengan tangan yang rumit serta pelapisan listrik (electroplating) untuk menghasilkan warna hitam pekat. Lapisan pernis pelindung kemudian dihilangkan dengan cermat untuk menonjolkan detail emas di baliknya, termasuk angka Romawi dan penanda khas lainnya. Hegi menjelaskan, “Bagi saya, saat jam tangan ini dikenakan, permukaannya harus benar-benar halus, dan setiap bagian yang Anda sentuh harus terasa nyaman. Itulah yang kami terapkan di sini. Kami juga sedikit memodifikasi bagian crown agar memiliki cengkeraman yang sempurna. Terlebih lagi dengan mekanisme yang digunakan, yang memiliki karakteristik unik, saat Anda memutarnya, suaranya pun terdengar khas.”
The People Behind The Craft
Enrico Barbasini yang baru masuk ke ruangan di akhir wawancara kemudian turut bergabung, dan saat berbincang, Hegi dan Barbasini sering kali melengkapi kalimat satu sama lain dan saling melemparkan guyonan. Barbasini mengaku, “Saya bukan orang desain, tapi saya memiliki keinginan dan rasa penasaran yang tinggi.” Hegi menambahkan sambil tertawa, “Tapi dia datang setiap hari dalam hidup saya. Apa yang akan kita tunjukkan hari ini?”, lalu mereka berdua tertawa lepas. Saat percakapan kami masuk ke topik keunggulan karya-karya yang mereka ciptakan, Barbasini menambahkan, “Satu hal yang pasti, sebuah karya tidak boleh terasa biasa saja.
Kami di manufaktur La Fabrique du Temps Louis Vuitton sering kali berbeda pendapat mengenai gagasan-gagasan yang kuat, yang justru memperkaya gagasan tersebut. Kita harus mendukung dan mempertahankan sebuah gagasan. Saya sering kali memiliki pendapat yang cukup kuat, dan justru karena itulah kami banyak berdiskusi.” Pengrajin berpengalaman memberikan pengetahuan yang tak ternilai, sementara talenta muda memperkenalkan perspektif baru. Hegi menjelaskan jika evolusi berbagai identitas pembuatan jam tangan, termasuk transisi dari koleksi Louis Vuitton Taiku ke Tambour misalnya, mencerminkan pentingnya penyempurnaan dan inovasi. Proyek lain mengeksplorasi arsitektur mekanis yang tidak konvensional, termasuk gerakan berbasis kubus yang terkait dengan penceritaan yang terinspirasi perjalanan dan Louis Vuitton.












