VISITING LA FABRIQUE DU TEMPS LOUIS VUITTON
Melalui manufaktur La Fabrique du Temps Louis Vuitton, jenama Louis Vuitton semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemain serius dalam pembuatan jam tangan kelas atas
Maison Louis Vuitton adalah jenama asal Prancis yang didirikan di Paris pada tahun 1854. Namanya identik dengan barang-barang mewah, dan monogram perusahaan asal Paris ini dikenal di seluruh dunia sebagai simbol kekayaan dan kemakmuran. Namun belum banyak yang mengetahui jika jenama ini juga merambah ke dunia haute horology (pembuatan jam tangan mewah) sejak tahun 2002, berkat investasinya pada La Fabrique du Temps Louis Vuitton dan sukses menciptakan jam tangan mekanis buatan Swiss pertamanya, yaitu Tambour.
Kini, manufaktur jam tangan horologi tinggi Louis Vuitton yang berlokasi di Meyrin, Jenewa, Swiss ini telah berhasil memproduksi jam-jam kelas atas dan meraih berbagai penghargaan seperti GPHG Awards. Manufatur megah ini juga berfungsi sebagai pusat operasional untuk menghidupkan kembali rumah horologi independen Gérald Genta dan Daniel Roth, sekaligus menjadi tuan rumah bagi Louis Vuitton Watch Prize yang ditujukan bagi para kreator independen.
Kami dari Collector’s Guide-WATCHES Indonesia pertama kali diundang ke manufaktur ini pada tahun 2019, jauh sebelum mereka mengakuisisi merek-merek legendaris Gérald Genta dan Daniel Roth di tahun 2023. Tentunya sudah banyak perubahan penting selama kurun waktu tersebut, sehingga saat tahun ini kami kembali diundang ke manufaktur milik Louis Vuitton yang didirikan oleh dua ahli pembuat jam visioner, Michel Navas dan Enrico Barbasini ini, tentu kami menyambutnya dengan sangat antusias!
Begitu memasuki area lobi gedung yang megah ini, terlihat foto-foto jam Tambour Carpe Diem dari Louis Vuitton, yang memenangkan penghargaan di GPHG, yang ditampilkan juga di berbagai sudut La Fabrique du Temps. Di sebelah kanan lobi, tergantung sebuah spanduk grafis berukuran besar, yang menampilkan pola yang serupa dengan pola lukisan tangan pada jam tangan Escale Worldtime.
Kami diajak berkeliling untuk meninjau fasilitas di atelier megah seluas lebih dari 4.000 meter persegi yang menyatukan manufaktur casing jam (La Fabrique des Boîtiers), pembuatan pelat jam (La Fabrique des Cadrans), hingga perakitan mesin jam (La Fabrique des Mouvements) di bawah satu atap ini. Untuk dapat lebih mengerti dan menghargai sebuah jam tangan yang merupakan karya seni tingkat tinggi, kita harus melihat langsung bagaimana proses pembuatan sebuah mahakarya dan keahlian dan seni kriya (Métiers d’Art) di workshop yang memiliki spesialisasi dalam komplikasi tingkat tinggi.
Workshop ini memiliki segalanya, mulai dari minute repeater, automata, hingga mekanisme jam jumping-hour tipe Spin Time. Kami juga menyaksikan langsung proses pengerjaan seni kriya tradisional seperti ukiran tangan, guilloché, teknik enamel, hingga bahan-bahan dan warna yang digunakan, lukisan miniatur, dan pemasangan batu permata. Menyaksikan para perajin dan seniman itu saat bekerja sungguh menginspirasi, dan setiap detail dibentuk dengan kesabaran, ketelitian, dan semangat yang mendalam.
Proses desain jam tangan Louis Vuitton melibatkan kolaborasi berbagai tim, diawali dengan pembuatan sketsa tangan yang kemudian ditinjau dan disetujui sebelum dialihkan ke Photoshop. Pendekatan tradisional ini terbilang langka di kalangan jenama horologi mewah. Departemen desain dan prototipe juga berperan mengakomodasi permintaan personalisasi pelanggan melalui kajian kelayakan teknis dan pembuatan prototipe. Menariknya, setiap pengembangan desain tidak hanya mempertimbangkan estetika dan aspek teknis, tetapi juga mengutamakan kebutuhan serta preferensi pelanggan.
Pendekatan tradisional ini terbilang langka di antara jenama horologi mewah sekaliber Louis Vuitton. Selain itu, teknologi pencetakan 3D memungkinkan pembuatan prototipe movement dan casing dalam waktu singkat, sehingga setiap rancangan dapat dievaluasi melalui model fisik. Kunjungan berlanjut ke bengkel pembuatan jam tangan, tempat para pembuat jam merakit setiap jam tangan dari awal hingga selesai.
Pembagian tugas disesuaikan dengan keahlian, mulai dari pembuat jam junior yang menangani koleksi Tambour terbaru hingga ahli berpengalaman yang mengerjakan komplikasi tinggi seperti minute repeater dan tourbillon. Di area khusus tersebut, kami juga dapat mengamati berbagai kreasi horologi Louis Vuitton dari dekat, termasuk Tambour Carpe Diem, arloji peraih penghargaan dengan mekanisme unik yang menampilkan penunjuk jam dan menit melalui sebuah tombol, memadukan kecanggihan teknis dengan kreativitas artistik.
Di ruang penyimpanan La Fabrique du Temps, kami menemukan beragam material eksotis, mulai dari meteorit, malakit, aventurin, rubi, oniks, opal, giok, hingga kulit kerang. Kami juga mengunjungi ruang pengerjaan enamel, tempat empat hingga lima perajin perempuan bekerja teliti di bawah mikroskop. Di salah satu sudutnya, tersimpan ratusan botol kecil berisi bubuk pigmen warna sebagai bahan dasar enamel.
Tak kalah menarik, terdapat area khusus yang menampilkan mesin guilloché, termasuk rose engine untuk menciptakan pola melingkar dan mesin pembuat pola garis lurus. Seluruhnya memperlihatkan presisi dan kehalusan seni dekorasi horologi. Di luar kekaguman terhadap proses dan keahlian tersebut, keramahan para pembuat jam dan perajin yang dengan antusias menjawab setiap pertanyaan turut menjadi kesan tersendiri dari kunjungan ini. Rasanya satu hari tidak cukup untuk menjelajahi setiap ruangan di gedung
Terima kasih kepada seluruh tim Louis Vuitton di Jenewa, Alan dan tim, yang telah memberikan pengalaman tak terlupakan dan menunjukkan keahlian serta pengetahuan mendalam dalam proses manufaktur Louis Vuitton. Terima kasih juga kepada tim Louis Vuitton di Indonesia yang sudah mengatur dan memfasilitasi perjalanan ini. See you all again soon!























