THE NEW LUXURY
Melalui identitas barunya, SIJE 2026 mulai memperlihatkan bagaimana dunia luks perlahan bergerak dari rasa segan menuju rasa ingin tahu
Cincin, kalung, dan gelang berlian, serta jam tangan yang dikenakan oleh seorang model memantulkan cahaya dengan latar belakang ungu gelap yang kini tampil mewakili identitas baru Singapore International Jewellery Expo atau SIJE 2026. Tidak banyak elemen yang ditampilkan. Logo baru dengan ikon berlian muncul di antara komposisi yang sengaja dibuat sederhana. Namun pendekatan tersebut terasa cukup kontras dengan citra pameran perhiasan yang acapkali mengandalkan kemegahan visual. Laporan Luxury in Transition oleh Bain & Company pun menunjukkan bahwa pengeluaran bersifat mewah yang bertumbuh paling cepat pada 2024 justru datang dari kategori pengalaman, bukan barang. Dalam konteks itu, pembaruan identitas SIJE terasa seperti upaya menggeser perhatian dari sekadar objek menuju kepada pengalaman untuk menemukan dan memahaminya secara lebih dekat.
Perubahan tersebut hadir menjelang penyelenggaraan SIJE pada 9 hingga 12 Juli 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapura. Selama lebih dari dua dekade, pameran ini mempertemukan maison perhiasan internasional, pembuat jam tangan independen, kolektor, hingga pelaku industri dari berbagai negara Asia. Namun pembaruan kali ini tidak berhenti pada logo atau identitas visual baru. SIJE juga mulai merancang ulang pengalaman pengunjung melalui discovery zones, hospitality areas, hingga sistem digital yang membantu mempertemukan pembeli dengan ekshibitor secara lebih intuitif. “Pengunjung ingin mengeksplorasi, membandingkan, lalu memilih dengan lebih percaya diri dalam satu destinasi yang nyaman,” ujar Dr Ilaria Cicero, CEO IEG Asia.
Pilihan warna ungu tua pada identitas baru SIJE juga menjadi detail yang menarik untuk dipahami. Dalam sejarah strategi pemasaran premium, warna-warna seperti hitam, emas, dan ungu kerap digunakan untuk membangun asosiasi terhadap status dan eksklusivitas. Namun warna ungu yang dipilih oleh SIJE diklaim untuk tidak tampil terlalu dingin atau agresif. Ia dipilih berkat sifat tenangnya dengan pencahayaan yang mengingatkan pada butik perhiasan modern dibanding atmosfer balai irung formal konvensional. Pendekatan serupa juga terlihat dari arah baru pameran yang lebih menekankan discovery-driven experience dibanding transaksional. SIJE juga memperluas pengalamannya melalui Visitor Xperience Programme yang mencakup penawaran hotel, atraksi, hingga F&B di Singapura bagi pemegang tiket masuk.
Selama lebih dari dua dekade, SIJE menghadirkan kolektor, penikmat, pelaku industri, hingga penggemar barang mewah dari berbagai negara Asia dan sekitarnya ke dalam satu ruang yang sama. Namun identitas baru yang diperkenalkan tahun ini juga untuk menunjukkan bahwa SIJE tidak lagi hanya ingin menjadi tempat bertemunya jenama dan pembeli. Pameran ini juga ingin membangun pengalaman yang terasa lebih relevan bagi konsumen kelas atas generasi baru yang datang untuk menemukan sesuatu di luar jenama ritel yang sudah familiar. “Rebrand ini merepresentasikan fase berikutnya dari perjalanan SIJE dengan menciptakan lingkungan yang lebih kontemporer, memikat, dan hangat,” tambah Dr Ilaria Cicero. Pendekatan tersebut terasa sejalan dengan perubahan industri luks yang kini semakin menekankan pengalaman dan eksplorasi.
Di tengah perubahan tersebut, fungsi pameran fisik justru menjadi semakin menarik. Orang sebenarnya dapat melihat ribuan jam tangan dan perhiasan melalui internet setiap hari. Namun pengalaman melihat batu permata, finishing pelat jam, atau proporsi case secara langsung tetap sulit digantikan layar. Hal serupa juga berlaku dalam percakapan antara pengunjung dengan ekshibitor yang sering menghasilkan pengalaman berbeda dibanding transaksi digital biasa. SIJE tampaknya memahami hal tersebut melalui pendekatan baru yang lebih terbuka terhadap eksplorasi. Pengunjung tidak hanya diarahkan untuk membeli, tetapi juga untuk melihat, membandingkan, dan memahami craftsmanship secara lebih dekat di dalam ruang yang sama, sebagai bentuk perancangan pengalaman pengunjung baru yang telah disebutkan sebelumnya.
Melalui identitas barunya, SIJE tetap berbicara tentang perhiasan langka, jam tangan bernilai tinggi, dan craftsmanship berstandar internasional. Namun langkah perubahan ini juga memperlihatkan bagaimana penyelenggara membaca pergeseran yang terjadi di pasar barang mewah. Berdiri sejak 2005, SIJE telah berkembang menjadi pameran perhiasan terlama di Singapura dan menghadirkan lebih dari 18.000 pembeli, 414 jenama dari 26 negara, serta perhiasan dan batu permata senilai lebih dari USD 250 juta pada edisi 2025. Skala tersebut memberi SIJE posisi yang cukup unik untuk mengamati bagaimana audiens barang mewah terus berubah dari waktu ke waktu. Kemewahan mungkin tetap lahir dari kelangkaan dan kualitas, tetapi cara orang menemukan dan mengalaminya tampaknya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Penulis: Billy Saputra



