THE TIME FOR RISK-TAKERS

Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap industri jam tangan independen telah melonjak pesat. Karena banyak merek besar kesulitan menghadirkan inovasi dan keunikan yang sesungguhnya, para penggemar jam tangan pun beralih ke dunia produksi skala kecil dan buatan tangan untuk benar-benar membedakan koleksi mereka dari yang lain. Namun, wilayah ini tetap merupakan dunia yang sangat niche. Seiring maraknya pameran-pameran khusus untuk merek independen bermunculan di seluruh dunia, ada beberapa merek yang menarik perhatian kami di Collector’s Guide WATCHES Indonesia. Bagaimana dengan Anda?

AWAKE Sơn Mài – Frosted Leaf

Seni kerajinan pernis Vietnam yang sudah berusia berabad-abad diangkat oleh merek jam tangan independen Awake, demi melanjutkan misinya untuk menyoroti kerajinan langka dan luar biasa dari seluruh dunia melalui prisma pembuatan jam tangan kontemporer. Dengan koleksi Sơn Mài Frosted Leaf, merek ini membawa eksplorasinya terhadap seni pernis Vietnam Sơn Mài selangkah lebih maju, menggabungkan keahlian turun-temurun dengan material modern, presisi mekanis, dan desain yang berkelas, dengan harga yang tak tertandingi di pasar saat ini.

Jam tangan Sơn Mài Frosted Leaf adalah sebuah ekspresi puitis dan sensual, yang terinspirasi oleh warna-warna Bumi seperti yang terlihat dari luar angkasa. Tiga interpretasi—dalam warna biru, hijau, dan cokelat—memberikan penghormatan kepada lautan, hutan, dan tanah subur.

Setiap pelat jam tangan dalam, bercahaya, dan bertekstur, dirancang sebagai karya seni sejati. Melalui teknik baru eksklusif yang memadukan pernis tradisional dengan penyepuhan daun perak, Awake merangkul para ahli pernis Vietnam untuk menciptakan kembali tampilan jam tangan kontemporer, sebuah dialog antara seni, alam, dan inovasi.

Jam tangan yang menampilkan pelat jam berbahan pernis tradisional Vietnam ini memang sangat diminati, dan koleksi edisi terbatas terbaru Frosted Leaf ini terdiri dari tiga model, semuanya memiliki pelat jam yang terinspirasi dari pemandangan permukaan Bumi dari luar angkasa. Jarum jam dan penanda jam terdiri dari dasar Luminova BGW9 yang ramping namun kokoh, dilapisi dengan sisipan baja yang dipoles dan difaset, masing-masing dipoles hingga menghasilkan ujung yang sangat tajam.

Manufaktur Swiss La Joux-Perret (La Chaux-de-Fonds) menciptakan kaliber otomatis La Joux-Perret G101 yang berputar searah jarum jam. Dikelilingi oleh cincin “Clous de Paris” bertekstur, kaliber ini terkenal karena kekokohan dan kinerjanya (cadangan daya 68 jam) dan memiliki rotor tungsten yang dirancang khusus untuk Awake, dengan kontras permukaan relief dan lekukan yang elegan, ditingkatkan oleh teknik finishing yang halus.

Dial unik yang dirancang dengan tangan sebagai karya seni tersendiri, Diameter jam 39 mm dengan casing dan gesper baja tahan karat 316L daur ulang, dengan tali dari Delugs  yang terbuat dari tali kulit Nubuck abu-abu muda berukuran 20x16mm yang khusus dibuat dengan tangan. Jam tangan unik ini ditawarkan dengan harga EUR 2.150 (sekitar IDR 42,1 juta), belum termasuk pajak.

 

Horizon Watches Spectrum (2-halaman yaa)

Di tengah tren industri jam tangan modern yang kerap bereksperimen dengan desain asimetris, Horizon Watches mengambil langkah berani dengan kembali ke akar estetika dan proporsi klasik. Lewat koleksi terbarunya yang diberi nama Spectrum, jenama ini menawarkan sebuah kembalinya proporsi fundamental sekaligus lompatan bahasa desain yang menawan. Model ini seakan menunjukkan sisi dari Spectrum yang menjadi bukan hanya sekadar penunjuk waktu, melainkan sebuah pernyataan bahwa harmoni visual tidak pernah kehilangan daya tariknya.

Selintas, tampilannya terlihat membumi dengan wujud bundar klasik dan stainless steel case 316L berukuran 38mm yang sangat proporsional. Namun, keistimewaannya justru terletak pada detail arsitektural yang digarap dengan penuh determinasi. Case ini merupakan wujud evolusi ‘Fase 2’ dari Horizon yang mengedepankan konstruksi multi-bagian dengan garis geometri yang tegas. Bagian lug bersudut memberikan siluet yang tangguh, sementara variasi penyelesaian akhir pada permukaan logamnya—mulai dari sandblasted, melingkar, hingga vertikal—menciptakan ritme visual yang dinamis dan berkarakter. Seluruh detail ini disempurnakan dengan kehadiran sapphire crystal “top-hat” bergaya kotak dengan lapisan anti-reflektif, yang memberikan kedalaman ekstra pada area dial jam.

Daya tarik utama koleksi Spectrum tentu saja berada pada bagian dial jamnya yang dirancang dengan arsitektur berlapis. Lapisan teratasnya terbuat dari baja yang dipotong menggunakan mesin CNC, menampilkan alur-alur dalam yang menyingkap struktur di bawahnya. Tepat di bawahnya, terdapat lapisan tengah yang dijuluki “pizza” oleh sang kreator, yang terbagi ke dalam empat kuadran dengan warna berbeda untuk membangkitkan resonansi emosional.

Desain ini kemudian dibingkai oleh sapphire crystal yang mampu menangkap cahaya dari berbagai sudut, menghasilkan efek kilau tak terduga dan menjadikan dial ini layaknya sebuah karya seni. Di balik eksteriornya yang memukau, Spectrum ditenagai oleh mesin mekanis otomatis Miyota 9015 dari Jepang yang berdetak pada frekuensi 4Hz dan memiliki cadangan daya 42 jam. Horizon tidak berhenti pada mesin standar; mereka melangkah lebih jauh dengan merancang ulang rotor menjadi bentuk bundar penuh berbahan tungsten.

Desain rotor ini selaras dengan tata letak dial yang simetris, menciptakan harmoni yang langka antara estetika eksterior dan ruang mesin. Untuk menunjang kenyamanan, jam tangan ini dipadukan dengan pilihan tali karet FKM dan rantai baja terintegrasi yang seluruhnya didesain khusus tanpa kompromi menggunakan komponen off-the-shelf.

Pada bagian caseback, Horizon menyematkan sebuah kutipan puitis dari Stephen Hawking: “The past, like future, is indefinite and exists only as a spectrum of possibilities” (masa lalu, seperti masa depan, tidak terbatas dan hanya ada sebagai berbagai spektrum kemungkinan). Kutipan ini menjadi pemanis dari Horizon Spectrum yang membuktikan bahwa dedikasi pada simetri mampu melahirkan mahakarya yang bertahan melampaui tren zaman.

Isotope Watches Altmann × Isotope Osaka Cloisonné Enamel

Dalam dunia horologi, berbagai jenama jam tangan mengambil inspirasi dari dunia aviasi, otomotif, atau sejarah maritim. Namun, Isotope Watches berani tampil beda dengan menghadirkan Altmann × Isotope Osaka Cloisonné Enamel. Kolaborasi yang sangat terbatas ini mengubah elemen desain urban yang tak terduga, yakni penutup lubang got atau manhole cover yang berasal dari Jepang, menjadi sebuah mahakarya seni pembuat jam.

Kisah di balik jam tangan ini bermula dari ketertarikan pendiri Isotope, José Miranda, terhadap keindahan penutup lubang got di Jepang yang memukau. Ide untuk menerjemahkan desain ini ke dalam ranah pembuatan jam tangan akhirnya terwujud setelah Miranda menemukan buku “Manhole Covers of the World” karya desainer dan ilustrator Björn Altmann. Pertemuan dua visi ini melahirkan seri jam tangan dalam jumlah yang sangat kecil, di mana dokumentasi Altmann mengenai desain penutup lubang got berpadu sempurna dengan keahlian Isotope dalam menciptakan dial jam yang tidak konvensional.

Bintang utama dari mahakarya ini adalah bagian dial yang secara harfiah mengambil basis desain dari penutup lubang got pemerintah kota Osaka, Jepang. Wajah jam ini menampilkan Kastil Osaka di bagian tengah, yang dikelilingi oleh motif aliran air dan bunga sakura yang sedang mekar. Motif tersebut memiliki makna mendalam, melambangkan hubungan historis kota Osaka dengan air serta pembaruan musim yang terus berputar. Menariknya, terdapat karakter huruf Jepang 大阪市 (Ōsaka-shi) yang dipertahankan pada desain aslinya, menegaskan statusnya sebagai desain infrastruktur publik resmi dan bukan sekadar reinterpretasi dekoratif. Untuk mewujudkan desain rumit ini ke dalam medium yang mungil, Isotope menggunakan teknik grand feu cloisonné enamel tradisional yang seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Setiap dial dibangun di atas dasar solid sterling silver.

Kawat-kawat perak yang sangat halus dibentuk dan diposisikan secara manual untuk membangun struktur desainnya, sebelum serbuk vitreous enamel diaplikasikan secara hati-hati pada ruang di antara kawat-kawat tersebut. Setelah itu, pelat dibakar di dalam tungku dengan suhu sekitar 850°C agar lapisan enamel meleleh dan menyatu secara permanen dengan dasar peraknya. Proses pengisian dan pembakaran ini bahkan harus diulang sekitar sepuluh kali demi mencapai ketebalan dan kedalaman visual yang sempurna. Secara teknis dan arsitektur, jam tangan elegan ini menggunakan basis platform Isotope Mercury.

Bagian case-nya terbuat dari material tangguh stainless steel 316L berdiameter proporsional 38mm, dan memiliki ketebalan 10mm. Jam tangan ini dibekali sapphire crystal cembung anti-reflektif dan kedap air hingga 100mm, dan ditenagai mesin mekanis Calibre I-7 berpemutar manual, modifikasi dari ETA Peseux 7001 buatan Swiss, yang beroperasi pada frekuensi 21.600 vph dengan cadangan daya handal selama 42 jam. Jam ini diproduksi sangat terbatas, yakni hanya lima buah di seluruh dunia, dan setiap jam tangan disertai dengan buku “Manhole Covers of the World” yang telah ditandatangani Björn Altmann.

Canuck Timepieces The Wormhole

Ketika sebuah merek jam tangan tidak hanya menjual instrumen mekanis, tetapi juga dikombinasikan dengan sebuah narasi nan epik, kerap kali membuat banyak pihak terpukau. Hal ini yang ditawarkan oleh Canuck Timepieces. Apa yang terjadi ketika Anda tersedot ke dalam sebuah black hole? Jawabannya: Anda akan memasuki The Wormhole. Jam tangan bertipe “Space Diver” ini adalah babak kedua yang sangat dinantikan dari kolaborasi “Cosmic” antara AndoAndoAndo dan Canuck Timepieces. Melanjutkan kisah yang diperkenalkan lewat edisi The Blackhole, koleksi ini mendorong konsep eksplorasi horologi semakin jauh ke dalam alam semesta yang tak dikenal. Premisnya sederhana namun menggugah: pesawat ruang angkasa kita telah tersedot ke dalam The Blackhole, dan kini tengah memasuki The Wormhole.

Bagian dial jam menggunakan material “Musou Black” yang terkenal, menciptakan nuansa ruang angkasa yang gelap, tanpa akhir, dan sangat imersif. Di bagian pusat dial, terdapat sebuah pusaran berputar yang seolah menghipnotis dan menarik pandangan mata Anda ke dalam. Jika Anda memperhatikannya dengan cukup saksama, Anda akan disuguhi detail yang memukau: siluet pesawat ruang angkasa kita yang tengah terjebak di dalam pusaran tersebut. Untuk menyempurnakan visual ini, Canuck Timepieces menyematkan jarum jam “Vortex” khusus yang secara brilian memperkuat kesan pergerakan, rotasi, dan distorsi di pergelangan tangan. Melingkari dial yang menghipnotis ini adalah bezel stainless steel yang dilengkapi pendaran lume BGW9 yang terang. Bagian bezel ini diukir dengan angka 3, 6, dan 9 menggunakan bahasa antargalaksi misterius yang seakan diambil langsung dari sebuah galaksi nun jauh di sana.

Di luar estetika fiksi ilmiahnya, jam tangan ini sangat mengedepankan kenyamanan. Dengan case berukuran 40mm ini berhasil mencapai keseimbangan yang cermat antara kehadiran visual yang mendominasi dan kenyamanan pemakaian sehari-hari. Didukung oleh jarak antar lug yang cukup ringkas, 41mm, The Wormhole memberikan kenyamanan optimal saat dikenakan. The Wormhole ditenagai oleh kaliber otomatis NH38A yang dipilih karena ketangguhan dan kesederhanaannya di segala kondisi. Menambah kesan taktis dan sporty, jam tangan ini dipasangkan dengan tali berbahan sailcloth hitam yang memberikan aura utilitas tinggi—seolah siap untuk menjalankan misi antariksa—yang diakhiri dengan bagian gesper tali jam berlogo resmi sebagai tanda pamungkas dari kolaborasi. The Wormhole diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Hanya akan ada 25 unit untuk varian silver case, dan sangat langka di angka 5 unit saja untuk varian black case.

Ming Polymesh

Ming bukanlah nama yang asing dalam urusan mendobrak batasan manufaktur di dunia horologi. Jenama independen ini terasa layaknya sebuah laboratorium eksklusif, di mana produk-produk yang sampai ke tangan konsumen adalah hasil eksperimen mutakhir mereka. Kali ini, Ming kembali menghadirkan sesuatu yang benar-benar eksentrik—inovasi yang diklaim sebagai yang pertama di dunia: gabungan kombinasi antara gelang dan tali jam titanium yang dicetak secara 3D. Diberi nama “Polymesh,” mahakarya ini sukses membuat takjub banyak pihak.

Karya ini tersusun dari 1.693 komponen dan tautan individu dari titanium grade 5 yang saling mengunci dengan luwes tanpa menggunakan satu pun pin atau sekrup. Bahkan, bagian buckle “tang” mereka juga dicetak 3D dan terartikulasi secara otomatis dari mesin cetak tanpa memerlukan perakitan tambahan, terkecuali bagian quick-release spring bars pada ujung tali. Dirancang untuk memeluk case Ming dengan lug berukuran 20mm, Polymesh adalah cerminan nyata dari ambisi Ming yang terus meroket. Ming juga bersikap sangat transparan mengenai pihak-pihak di balik layar yang mewujudkan visi ini.

Mereka menggandeng para ahli manufaktur seperti Sisma S.p.A di Italia dan ProMotion SA di Swiss. Perlu diingat, mengolah titanium grade 5 dengan mesin konvensional saja sudah menjadi mimpi buruk bagi banyak teknisi jam tangan, apalagi mencetaknya secara 3D menggunakan bahan dasar serbuk titanium. Tantangannya sungguh ekstrem. Ming mengungkapkan bahwa serbuk titanium yang digunakan untuk pencetakan 3D ini sangat mudah meledak, sehingga seluruh proses manufaktur harus dilakukan di dalam lingkungan inert gas environment yang aman.

Proses pembuatannya pun melibatkan ratusan lapisan sintering atau peleburan serbuk logam. Setelah bentuknya tercipta, tahap finishing tingkat tinggi mutlak diperlukan untuk menghapus garis-garis lapisan cetakan dan ketidaksempurnaan pada permukaannya. Tujuannya? Agar setiap tautan mikro tersebut dapat bergerak dan berartikulasi dengan mulus.  Hasil akhirnya pun tidak main-main: jarak toleransi antar komponen individu ini mencapai tingkat presisi setipis 70 mikron. Semuanya mengalir dengan sempurna, menciptakan efek drape atau jatuhan yang menempel di pergelangan tangan layaknya selembar kain yang terbuat dari logam. Jika Anda menjadi salah satu yang ingin merasakan langsung perpaduan antara seni dan ilmiah ini, tali jam Ming Polymesh ditawarkan dengan harga CHF 1.500 (sekitar IDR 31,8 juta). Meski saat ini hanya ditawarkan dalam ukuran 20mm, Ming tengah menyiapkan opsi ukuran 22mm untuk masa mendatang.

Ressence TYPE 7

Kehadiran Ressence TYPE 7 pantas untuk menyandang kata revolusioner dalam lini model yang satu ini. Dirancang sebagai tool watch paling mutakhir dari jenama ini hingga saat ini, TYPE 7 meleburkan ketangguhan sejati dengan keanggunan dan penyempurnaan modern bagi para penjelajah masa kini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, Ressence membekali mahakaryanya dengan gelang jam titanium Grade 5 yang terintegrasi penuh. Dilengkapi bagian deployant clasp yang sangat ergonomis dan memiliki lima posisi penyesuaian, jam tangan ini memastikan kenyamanan di pergelangan tangan si penggunanya.

Dibalut dalam case titanium berukuran 41mm yang luar biasa tangguh, model ini hadir dalam dua varian yang memesona: edisi Night Blue yang misterius dengan bezel keramik, dan edisi terbatas XV Aquamarine yang cerah dengan bezel aluminium. Khusus untuk varian XV Aquamarine, jam ini hanya diproduksi sebanyak 80 buah di dunia untuk merayakan hari jadi Ressence yang ke-15 di kancah horologi independen.

Daya tarik utama Ressence terletak pada keajaiban visualnya, dan TYPE 7 membawa hal ini ke tingkat berikutnya melalui desain dial yang diisi dengan 2,95ml minyak pada ruang atasnya. Karena minyak dan kaca merespons pembiasan secara identik, hal ini menciptakan ilusi optik memukau di mana indikator waktu seolah-olah diproyeksikan langsung ke permukaan tanpa adanya distorsi sama sekali. Untuk menjaga performa mekanis ketika suhu berubah ekstrem antara -5°C hingga +55°C, jam ini dilengkapi sistem bellows yang mengompensasi perubahan volume minyak secara otomatis, lengkap dengan indikator suhu berbasis kode warna yang sangat intuitif. TYPE 7 memperkenalkan fitur komplikasi penunjuk waktu GMT, yang merupakan debut pertama bagi Ressence. Mesin jamnya ditenagai oleh ROCS 7 yang dipatenkan. Tanpa menggunakan jarum konvensional, pergerakan ini mengandalkan serangkaian mikro-magnet layaknya jembatan tak kasat mata untuk mentransfer informasi melintasi membran titanium Grade 5. Tanpa adanya bagian tombol pemutar jam. pengguna dapat mengatur waktu menggunakan sistem Ressence Compression Lock System (RCLS) pada caseback yang juga menjamin ketahanan air hingga kedalaman 5 ATM atau 50m.vDilengkapi dengan Super-LumiNova Grade A biru untuk keterbacaan optimal di malam hari, TYPE 7 mewujudkan filosofi “Simplication” dari sang pendiri, Benoît Mintiens, dengan cara menanggalkan elemen yang dianggap tidak berguna demi menonjolkan esensi waktu.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap
×